TASAWUF DAN TAREKAT
(Menurut Imam
al-Ghozali)
Tasawuf
sebagai salah satu ilmu esoterik islam memang selalu menarik untuk
diperbincangkan. Terlebih pada saat ini dimana masyarakat seakan dikatakan
mengalami kekeringan spiritual sehingga tasawuf dianggaap sebagai satu obat
ampuh untuk mengobati kehampaan tersebut.
Terlepas
dari banyaknya pro dan kontra seputar asal mula munculnya tasawuf harus kita
akui bahwa nilai-nilai tasawuf memang sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW.
Setidaknya tasawuf pada saat itu terlihat secara konseptual dari tingkah laku
nabi yang pada akhirnya kita namakan dengan nilai-nilai sufi seperti sikap
zuhud, sabar, qona’ah, rendah hati, dan lain sebagainya. Hal tersebut sangatlah
wajar karena misi terpenting nabi adalah untuk memperbaiki dan sekaligus
meyempurnakan akhlak masyarakat arab dulu. Seperti termaktub dalam hadits
“innama buitstu li utammima makarima al-akhlak” (sesungguhnya aku diutus untuk
menyempurnakan akhlak).
Dalam
islam tasawuf digambarkan sebagai salah satu aspek dari segi tiga yang sangat
berhubungan erat. Segi tiga itu yaitu pertama: Islam, sebagai aspek ‘amali yang
meliputi ritual-ritual ibadah dan muamalah yang pada perkembangannya lebih
akrab disebut dengan syari’ah. Kedua: Iman, sebagai aspek i’tiqodi yang termasuk
didalamnya iman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya,
utusan-utusanNya, hari ahir dan takdirNya. Ketiga: Ihsan, sebagai aspek al-ruhi
yaitu aspek kejiwaan. Di dalam aspek kejiwaan inilah terkandung banyak sekali
maqam atau sifat-sifat yang nantinya akan disebut dengan istilah tasawuf atau
hakikat.
Diantara
salah satu tokoh tasawuf islam yang sangat terkenal adalah Muhammad ibn
Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmad al-Thusi atau yang kita kenal dengan sebutan
Imam Al-Ghazali. Beliau telah berhasil menggagas kaedah-kaedah tasawuf yang
terkumpul dalam karya monumentalnya Ihya’ U’lum al-Din (The Revival of Religion
Sciences). Karya al-Ghazali ini dianggap sebagai jembatan yang mendamaikan
syari’at dengan tasawuf yang sempat mengalami clash pada zaman itu. Dalam
sejarah Islam memang terkenal adanya pertentangan keras antara kaum syari'at
dan kaum hakekat, gelar yang diberikan kepada kaum sufi. Pertentangan ini
mereda setelah al-Ghazali datang dengan pengalamannya bahwa jalan sufilah yang
dapat membawa orang kepada kebenaran yang menyakinkan. Lebih dalam lagi karya
al-Ghazali dianggap sebagai cikal bakal dari tumbuhnya berbagai aliran tasawuf
modern yang saat ini sedang banyak diminati oleh masyarakat.
Ada
banyak komentar yang datang kepada al-Ghazali mulai dari kelompok yang
memuji-muji karya dan pemikirannya hingga kelompok yang mencaci maki dan
menganggap al-Ghazali sebagai tokoh yang harus bertanggung jawab atas
kemunduran islam. Seperti apa sebenarnya pemikiran tasawuf al-Ghazali sehingga
ia begitu banyak menjadi perhatian para ulama’ dan menjadi lahan subur bagi
para akademisi yang ingin menyelami pemikirannya, makalah ini akan mencoba
membuka dan menelaah sebagian pemikiran al-Ghazali dalam tasawuf.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Biografi Imam Al-Ghozali
GHAZALI, ABU HAMID, nama lengkapnya
Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Gazali, lahir di Thus provinsi
Khurasan, wilayah Persia / Iran sekarang 450 H / 1058 M dan meninggal 14
Jumadil Akhir 505 H / 19 Desember 1111 M, lebih dikenal dengan nama IMAM
AL-GAZALI.[1]
Sebelum ayahnya meninggal dunia,
ketika Al-Ghazali masih kecil, beliau dan saudaranya telah diserahkan kepada
seorang ahli tasawuf yang kelak mendidiknya. Di Durjan, beliau mempelajari ilmu
Fiqih dan bahasa Arab. Dari sana beliau melanjutkan perjalanannya ke kota
Naisabur, dekat Thus. Di sini beliau belajar kepada Imam Al-Haramain.[2] Kepala sekolah Nizamiyah di Naisabur.
Kemudian menjadi guru dan mengajar perguruan tersebut. Selanjutnya, pindah dan
mengajar pula di sekolah Nizamiyah Baghdad, lalu menjabat sebagai Direktur
sekolah-sekolah Nizamiyah seluruh Baghdad. Kedalaman dan keluasan ilmunya telah
menyebabkannya ragu terhadap kebenaran hasil pengetahuan yang diperoleh melalui
panca indera, melalui akal pikiran. Ia ragu pula terhadap Mutakallimin, para
Filosof, dan golongan Syi’ah Batiniyyah.
Apa yang dicarinya selama ini
tentang jalan yang benar ditemukannya di dalam tasawuf, di mana ia merasakan
kejernihan pikiran sehingga terbukalah baginya ilmu yang tak pernah didapatkannya
sebelumnya.[3]
Hatinya menjadi terang, sikapnya menjadi tabah, serta memperoleh “kepastian”
tentang ilmu. Beliau berani meninggalkan segala kemewahan, harta kekayaan,
kehormatan, dan keluarga yang ada di Baghdad untuk kemudian pergi ke Suriah
pada tahun 489 H. Sebelumnya, segala harta kekayaan yang diperoleh di Baghdad
telah diwakafkan terlebih dahulu. Di kota Damaskus, beliau tinggal selama 11
tahun.
Di Damaskus inilah mula-mula beliau
melakukan pertobatannya dengan melakukan khalwat, beriktikaf, menyucikan diri
dan jiwanya, membersihkan akhlak dan budi pekertinya, selalu berfikir tentang
Allah SWT. Di situ kemudian beliau pergi ke Yerussalem. Di sini pula beliau
menetap dan berkhalwat di Masjid Baitul Maqdis. Lama-kelamaan kemudian sesudah
itu, beliau pergi ke Mesir dan seterusnya ke Mekkah dan Madinah untuk
menunaikan ibadah haji.
Kadang-kadang Al-Ghazali pulang ke
Baghdad untuk sekedar menengok keluarganya. Kehidupan yang demikian ini
berjalan bertahun-tahun. Setelah sekian lama berada di dalam pengembaraan,
akhirnya beliau pulang kembali dan menetap di Baghdad.
Setelah mengarungi lautan hidup
yang luas itu, menyalami ilmu yang sangat dalam serta menegakkan ibadah, maka
pada tanggal 9 Desember 1111 M ( 505 H ), Hujjah al-Islam, Waliyyullah, dan
filosof Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad Al-Ghazali berpulang ke rahmatullah.[4]
B.
Konsep Tasawuf Imam Al-Ghozali
a.
Al- Ghazali dan Tasawuf
Tidak seperti
kebanyakan tokoh sufi lainnya al-Ghazali melewati proses yang sangat panjang
dan melelahkan dalam pencariannya akan kebenaran sejati. Bahkan sebelum ia
menemukan tasawuf sebagai persinggahan terahirnya ia sempat berkeliaran dalam
berbagai macam aliran dan kelompok hanya untuk mencari kebenaran itu. Ia sempat
menuliskan kisah perjalannya tersebut dalam kitabnya Al Munqiz Min-a
'dl-Dlalal.
"Semenjak mudaku, sebelum aku menginjak usia dua puluh hingga
saat ini, ketika aku telah menginjak usia lima puluh tahun, aku selalu
mengarungi lautan yang dalam ini. Dengan segala keberanian, menelusuri seluruh
segi, dan mempelajari akidah semua firqah, kemudian berusaha membuka rahasia
mazhab semuah firqah itu. Agar aku dapat membedakan antara yang benar dengan
yang salah, serta antara yang mengikuti sunnah dengan yang membuat bid'ah. Aku
tidak memasuki kebatinan kecuali untuk mengetahui kebatinannya, tidak kaum
zhahiri (literalis) kecuali agar aku mengetahui hasil kezhahirihannya, juga
tidak filsafat kecuali aku hendak mengetahui hakikat filsafatnya, dan tidak
kaum mutakallimin kecuali untuk mengetahui hasil akhir kalam dan debat mereka,
tidak juga kaum sufi kecuali aku ingin mengetahui rahasia kesufiannya, dan
tidak kaum ahli ibadah kecuali aku ingin mengetahui hasil dari ibadahnya, juga
tidak kaum zindiq yang tidak mengikuti syari'at kecuali untuk menyelidiki
mengapa mereka demikian berani berbuat seperti itu"[5].
Ketertarikan
Al-Ghazali pada tasawuf tidak saja telah membuatnya memperoleh pencerahan dan
ketenangan hati. Lebih jauh lagi, justru dia memiliki peran yang cukup
signifikan dalam peta perkembangan tasawuf selanjutnya.
Jika pada awal pembentukannya
tasawuf berupaya menenggelamkan diri
pada Tuhan, dimeriahkan dengan tokoh-tokohnya seperti Hasan Basri (khauf),
Rabi`ah Al-Adawiyah (hub al-ilah), Abu Yazid Al-Busthami (fana`), Al-Hallaj
(hulul), dan kemudian berkembang dengan munculnya tasawuf falsafi dengan
tokoh-tokohnya Ibn Arabi (wahdat al-wujud), Ibn Sabi`in (ittihad), dan Ibn
Faridl (cinta, fana', dan wahdat at-shuhud) yang mana menitikberatkan pada
hakikat serta terkesan mengenyampingkan syariah, kehadiran Al-Ghazali justru
telah memberikan warna lain; dia telah mampu melakukan konsolidasi dalam
memadukan ilmu kalam, fiqih, dan tasawuf yang sebelumnya terjadi ketegangan.
Peran
terpenting yang di pegang al-Ghazali terjadi pada abad ke lima hijriyah. Pada
saat itu terjadi perubahan yang jauh oleh para sufi. Banyak dari mereka yang
tenggelam dalam dunia kesufian dan meninggalkan syariat[6].
Kampanye
al-Ghazali dalam mengembalikan tasawuf pada jalan aslinya yaitu tidak
menyimpang dari nash dan sunah Rasul telah membawa perubahan besar pada zamannya.
Ia berpendapat bahwa seorang yang ingin terjun dalam dunia kesufian harus
terlebih dahulu menguasai ilmu syariat. Karena praktek-praktek kesufian yang
bertentangan dengan syariat islam tidak dapat dibenarkan. Menurut al-Ghazali
tidak seharusnya antara syariat dan tasawuf terjadi pertentangan karena kedua
ilmu ini saling melengkapi.
Dalam kitabnya
Ihya’ U’lum al-Din al-Ghazali menjelaskan dengan detail hubungan antara syariat
dengan tasawuf. Ia memberikan contoh praktek syariat yang kosong akan nilai
tasawuf (hakikat) maka praktek itu tidak akan diterima oleh Allah dan menjadi
sia-sia. Sebaliknya praktek tasawuf yang meninggalkan aturan syariat islam maka
praktek itu akan mengarah pada bid’ah. Ibarat syariat adalah tubuh maka
nilai-nila tasawuf adalah jiwanya sehingga antara keduanya tidak dapat
dipisahkan.
Ihsan yang
merupakan penjabaran dari konsep tasawuf selamanya tidak akan pernah bisa
terlepas dari syariat itu sendiri. Konsep an ta’buda allah kaanaka tarahu
adalah contoh paling mudah yang menggambarkan hubungan antara tasawuf dengan
syariat. Praktek solat secara dhohirnya dengan rukun dan syarat-syaratnya
merupakan aspek syariat yang diibaratkan sebagai tubuh (jasad). Sedangkan
khusu’ (menghadirkan hati kepada Allah) merupakan aspek tasawuf yang
diibaratkan sebagai hati atau ruh dari tubuh tersebut. Keduanya tentu tidak
dapat dipisahkan dan bersifat saling melengkapi[7].
Akhir kata, apa
yang telah diupayakan Al-Ghazali dengan rumusan tasawufnya telah menandai satu
titik puncaknya dengan keberhasilan gemilang yang telah diraihnya-selain
Al-Qusyairi dan Al-Hawari-karena telah mengembalikan tasawuf pada landasan Al
Quran dan hadits. Selain itu, Al-Ghazali juga telah menawarkan teori tasawuf
baru (ma`rifat) sebagai pendekatan diri kepada Allah (taqarrub ila Allah) tanpa
diikuti penyatuan dengan-Nya yang mana itu telah mempunyai pengaruh yang cukup
besar terhadap perkembangan tasawuf sesudahnya, sehingga Al-Ghazali dikatakan
seorang sufi yang bisa meredam perseteruan yang tidak harmonis antara ilmu kalam,
fiqih, dan filsafat.
b. Konsep
Ma’rifat al-Ghazali
Dalam pengertian bahasa, ma'rifat berarti
mengetahui sesuatu apa adanya, atau berarti ilmu yang tidak lagi menerima
keraguan.[8]
Dalam pandangan al-Ghazali, sebagaimana ditulis
oleh al--Taftazani, ma'rifat adalah mengenal Allah; tidak ada yang wujud selain
Allah dan Perbuatan Allah. Menurut al-Ghazali, Allah dan perbuatan-Nya adalah
dua, bukan satu. Alam semesta adalah ayat (bukti) kekuasaan dan kebesarannya.[9]
Ma'rifat adalah ilmu yang tanpa keraguan
ketika obyek ilmu itu adalah Allah dan sifatnya.[10]
Dalam ungkapan lain, ma'rifat menurut al-Ghazali adalah tauhidnya para
shiddiqin yang tidak melihat selain ke-esaan Allah dalam seluruh apa yang
tampak, dan menghilangkan hak-hak atas diri mereka.[11]
Ma'rifat adalah kondisi (hal) yang bermuara
dari upaya-upaya mujahadat dan menghapus sifat-sifat yang jelek, pemutusan
semua hubungan dengan makhluk, serta penghadapan inti/hakikat cita-cita kepada
Allah yang dilakukan oleh seseorang.[12] Dalam kondisi ini, maka Allah kemudian hadir
dan mengisi hati orang tersebut dan kemudian Allah memenuhi hati orang tersebut
dengan rahmat, memancarkan nur-Nya, melapangkan dada, membuka padanya rahasia
alam malakut, tersingkaplah dari hati orang tersebut kelengahan sebab kelembutan
rahmat-Nya, serta berkilauanlah disana hakikat masalah-masalah ilahiyat.[13]
Para nabi dan wali memperoleh pengetahuan dan
dadanya terpenuhi oleh nur dengan cara serupa ini. Mereka memperolehnya tanpa
belajar dan membaca, tetapi dengan zuhud di dunia dan membebaskan diri dari
belenggunya, mengosongkan hati dari kotoran-kotorannya, serta menghadap secara
utuh kepada Allah. Ini bisa terjadi karena barangsiapa keberadaannya untuk
Allah, maka Allah juga baginya.
Perjalanan seseorang menuju ma'rifat berangkat
dari keyakinan seseorang yang kemudian melalui upaya-upaya yang tidak mudah,
seseorang melakukan perjalanan naik/perkembangan positif dalam kondisi
internalnya dalam bentuk maqam/stage.
Keyakinan seseorang mengindikasikan kekuatan
imannya kepada Allah, hari akhir, surga dan neraka. Setelah keyakinan ini,
seseorang naik kepada stage berikutnya yaitu khauf dan raja'.
Berikutnya tahap Shabr, yang menghantar kepada
satu tahap diatasnya yaitu mujahadah, dzikr, dan tafakkur. Dzikir mengantarkan
kepada tahap uns. Tafakkur menghantarkan kepada sempurnanya ma'rifat.
Sempurnanya ma'rifat dan uns menghantar kepada mahabbah. Mahabbah menyebabkan
kerelaan sesorang atas segala tindakan yang dicintainya dan percaya akan
pertolongannya. Ini adalah tawakkal.
Dalam kaitan dengan ma'rifat, ada dua term yang
sering disebutkan oleh al-Ghazali yaitu ma'rifat al-dzat dan ma'rifat al-sifat.
Pengertian ma'rifat al-dzat adalah pengetahuan bahwa-sanya Allah adalah dzat
maujud, tunggal (fard), esa (wahid), dan sesuatu yang agung yang tegak dengan
dirinya serta tidak diserupai oleh sesuatu apapun. Sedangkan ma'rifat al-sifat
ber-arti pengetahuan bahwa Allah adalah dzat adalah zat yang hidup (hayy), maha
mengetahui ('alim), maha berkuasa(qadir), maha mendengar(sami'), maha melihat (bashir)
dan seterusnya dengan sifat-sifat yang lain.[14]
Yang tercakup dalam ma'rifat adalah empat hal
yaitu mengetahui diri (nafs), mengetahui tuhan (rabb), mengetahui dunia, dan
mengetahui akhirat. Diri diketahui dengan jalan beribadah, merendah (dzull),
dan menjadi faqir (iftiqar).
Tuhan diketahui dengan kemulyaan, keagungan,
dan kekuasaannya. Ia dapat diketahui juga dengan keberadaan hamba sebagai
seorang asing di dunia, keberadaannya sebagai orang yang sedang melaku-kan
perjalanan dari dunia ke akhirat, dan orang yang menjauhi syahwat-syahwat
kebinatangan (bahimiyyah).[15]
Tanda bagi adanya ma'rifat adalah hidupnya hati
beserta Allah Ta'ala. Ditulis oleh al-Ghazali, bahwasanya pernah terjadi dialog
antara Allah dan Nabi Daud A.S. dimana Daud ditanya oleh Allah, "Adakah
Engkau tahu apakah ma'rifat kepadaku ?", Daud menjawab, "Tidak".
Dijelakan oleh Allah, "Ia itu adalah hidupnya hati dalam musyahadat
kepadaku.[16]
Ma'rifat hakiki terdapat dalam maqam ru'yat wa
al--musyahadah bi sirr al-qalb. Orang yang ma'rifat melihat sekedar hanya untuk
mengetahui. Karena ma'rifat yang hakiki ada di dalam (bathin) iradah Allah.
Allah, ketika ini, hanya membuka sebagian hijab sehingga memungkinkan hambanya
untuk mengenali--Nya. Akan tetapi, Ia tidak membuka seluruh hijab, agar yang
melihat-Nya tidak terbakar.[17]
Tanda adanya ma'rifat hakiki pada diri
seseorang adalah jika di hatinya telah tidak dijumpai tempat untuk lain selain
Allah. Ini erat kaitannya dengan apa yang dikatakan sebagian para Ulama tentang
hakikat ma'rifat bahwa hakikatnya adalah menyaksikan (musyahadat) al-haqq
dengan tanpa perantaraan, tidak bisa digambarkan, dan tanpa ada kesamaran. Potret dan contoh figur yang telah sampai pada
tingkatan ini, sebagaimana dicontohkan oleh al-Ghazali, misalnya Ali bin Abi
Thalib, Ja'far Shadiq.
Ketika Ali ditanya oleh seseorang, "Wahai
Amir al-Mu'minin, apakah engkau menyembah seseuatu yang engkau lihat atau
sesuatu yang tidak engkau lihat ?", Ali menjawab, "Tidak, bahkan aku
menyembah dzat yang aku lihat tidak dengan mata kepalaku, tetapi dengan mata
hatiku". Demikian juga ketika Ja'far al-Shadiq R.A. ditanya "Apakah
engkau melihat Allah ?", ia menjawab, "Apakah aku menyembah tuhan
yang tidak bisa aku lihat". Lalu ia ditanya lagi, "Bagaimana engkau
dapat melihatnya pada-hal Ia (Tuhan) adalah sesuatu yang tidak terjangkau oleh
peng-lihatan". Ja'far Shadiq menegaskan, "Mata tidak bisa melihat
Tuhan dengan penglihatannya, tetapi hati bisa melihat-Nya dengan hakikat iman.
Ia tidak mungkin dapat diindera oleh pan-caindera dan dipersamakan dengan
manusia.
Dalam pandangan al-Ghazali, rahasia serta
"ruh" yang terkandung dalam ma'rifat adalah tauhid, yaitu penyucian
sifat hayat 'ilmu, qudrat, iradat, sam', bashar, dan kalam Allah dari
penyerupaan.
Adapun Sumber dan Tingkatan Ma'rifat yaitu:
Sumber ma'rifat menurut al-Ghazali ada empat
yaitu :
a.
Pancaindera; Menurut al-Ghazali, pancaindera
adalah termasuk juga sumber ma'rifat. Akan tetapi bekerjanya hanya dalam
beberapa sumber, akan tetapi tidak dalam yang lain.
b.
Akal; Sebagaimana pancaindera, akal juga
adalah merupakan salah satu sumber ma'rifat dalam beberapa sumber. Tetapi
sekali lagi, ditegaskan bahwa ia bukanlah segala-galanya. Menganggap dan
memberikan cakupan yang luas bagi akal sebagai sumber ma'rifat dapat
menyebabkan penyepelean terhadap al-Qur'an sebagai utama.
c.
Wahyu; Menurut al-Ghazali, wahyu adalah sumber
terbesar bagi Ma'rifat. Wilayah cakupannya sangat luas, sesuai dengan posisinya
sebagai sumber pertama dan utama bagi ajaran Islam.
d.
Kasyf; yang dimaksud dengan kasyf oleh
al-Ghazali adalah cahaya yang dihunjamkan ke dalam hati hamba, sehingga hati
dapat melihat dan merasakan sesuatu dengan 'ain al-yaqin. Kasyf adalah
sumber kedua bagi ma'rifat yang terbesar setelah wahyu. [18]
Tingkatan
ma'rifat, menurut al-Ghazali berjenjang sesuai dengan tingkatan iman seseorang.
Karena itu, tingkatan ma'rifat dibagi menjadi tiga sesuai dengan tingkatan iman
seseorang. Tiga tingkatan tersebut yaitu :
a.
Tingkatan pertama; imannya orang awam.
Iman dalam tingkatan ini adalah iman taqlid yang murni.
b.
Tingkatan kedua;
Imannya para ahli kalam. Mereka adalah orang-orang yang mengaku ahli akal dan
berpikir atau mengaku sebagai tokoh penelitian dan istidlal.
c.
Tingkatan ketiga;
Imannya para 'arifin yaitu orang-orang yang menyaksikan dengan 'ainul yaqin.[19]
c.
Pandangan
Al-Ghazali tentang As-As’adah
Menurut
Al-Ghazali, kelezatan dan kebahagiaan yang paling tinggi adalah melihat Allah (ru’yatullah)
di dalam kitab Kimiya As-Sa’adah, ia menjelaskan bahwa As-Sa’adah (kebahagiaan)
itu sesuai dengan watak (tabiat). Sedangkan watak sesuatu itu sesuai dengan
ciptaannya; nikmatnya mata terletak pada ketika melihat gambar yang bagus dan
indah, nikmatnya telinga terletak ketika mendengar suara merdu. Demikian juga
seluruh anggota tubuh, mempunyai kenikmatan tersendiri
Kenikmatan
qolb sebagai alat memperoleh ma’rifat terletak ketika melihat Allah. Melihat
Allah merupakan kenikmatan paling agung yang tiada taranya karena ma’rifat itu
sendiri agung dan mulia. Kelezatan dan kenikmatan dunia tergantung pada nafsu
dan akan hilang setelah manusia mati, sedangkan kelezatan dan kenikmatan
melihat Tuhan tergantung pada qalb dan tidak akan hilang walaupun manusia sudah
mati, hal ini karena \ qalb tidak ikut mati, malah kenikmatannya bertambah
karena dapat keluar dari kegelapan menuju cahaya terang.[20]
C.
Tarekat Imam al-Ghozali
Dari segi
bahasa tarekat berasal dari bahasa arab thariqat yaitu: jalan, keadaan,
aliran dalam garis tertentu. Selanjutnya pengertian tarekat berbeda-beda
menurut tinjauan masing-masing.
Tarekat
dikalangan sufiyah berarti: sistem dalam rangka mengadakan latihan jiwa,
membersihkan diri dari sifat-sifat yang tercela dan menghiasinya dengan
sifat-sifat yang terpuji dan memperbanyak zikir dengan penuh iklas semata-semata
untuk mengharapkan bertemu dengan dan bersatu secara ruhiyah dengan Tuhan.[21]
Jadi yang
dikamsud dengan tarekat adalah jalan yang bersifat spiritual bagi seseorang
sufi yang didalamnya berisi amal ibadah dan lain-lain yang bertemakan menyebut
nama Allah dan sifat-sifatnya, disertai penghayatan yang mendalam. Amalan dalam
tarekat ini ditegaskan untuk memperoleh hubungan sedekat mungkin dengan tuhan.
Dalam
mengadakan kegiatan bathin riyadhah dan mujahadah, memerlukan thariqat (metode)
melalui latihan jiwa, adapun tariqah menurut imam ghozali yaitu: Sistem
pendidikan pengawasan diri, Musyarathah, Muraqabah, Mujahadah, Mu’atabah dan Mukasyafah.
BAB
III
SIMPULAN
Dalam
islam tasawuf digambarkan sebagai salah satu aspek dari segi tiga yang sangat
berhubungan erat. Segi tiga itu yaitu pertama: Islam, sebagai aspek ‘amali
yang meliputi ritual-ritual ibadah dan muamalah yang pada perkembangannya lebih
akrab disebut dengan syari’ah. Kedua: Iman, sebagai aspek i’tiqodi yang
termasuk didalamnya iman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya,
utusan-utusanNya, hari ahir dan takdirNya. Ketiga: Ihsan, sebagai aspek
al-ruhi yaitu aspek kejiwaan. Di dalam aspek kejiwaan inilah terkandung banyak
sekali maqam atau sifat-sifat yang disebut dengan istilah tasawuf atau hakikat.
Adapun
ajaran tasawuf al-ghozali yaitu mengenai ma’rifat kepada Allah. Ma'rifat adalah
kondisi (hal) yang bermuara dari upaya-upaya mujahadat dan menghapus
sifat-sifat yang jelek, pemutusan semua hubungan dengan makhluk, serta
penghadapan inti/hakikat cita-cita kepada Allah yang dilakukan oleh seseorang.
Sedankan tharigot atau metode yang di ajarkan oleh imam al-ghozali meliputi: Sistem pendidikan pengawasan diri, Musyarathah, Muraqabah,
Mujahadah, Mu’atabah dan Mukasyafah. Kesumua initerangkum dalam konsep takhali,
tahali dan tajali.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdul Halim Mahmud, Al-Imam al-Ghazali wa
Ma'rifat al-Ghaib, Tulisan dalam menyambut haflah dzikra mi'awiyah
al--Ghazali
Abu
al-Wafa al-Ghanimi al-Taftazani, Madkhal ila al-Tasawwuf al-Islam,
diterjemahkan menjadi Sufi dari Zaman ke Zaman, Pustaka Bandung, 1974,
Al
Munqiz Min-a 'dl-Dlalal, Abu Hamid al-Ghazali.
Al-Ghazali,
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad binMuhammad, Raudlat al-Thalibin wa 'Umdat
al-Salikin, dalam Majmu'at Rasail al-Imam Al-Ghazali, Dar al-Kitab
al-Ilmiyah Beirut, 1986
Depag. Ensiklopedi Islam I 11M. ( Jakarta : C.V Anda Utama
:1993 ).
Doktor
Usman Isa Syahin, Nadzriyyah al-Ma'rifat inda al-Ghazali, Tulisan dalam
menyambut haflah dzikra mi'awiyah al-Ghazali.
Imam Al-Ghazali. Kegelisahan Al-Ghazali, ( Bandung :
Pustaka Hidayah : 1998 ).
Muhammad
Jawwad Mughniyah, Ustadz al-Syaikh, Mashdar al-Ma'rifat 'inda al-Imam
al-Ghazali, Tulisan dalam menyambut haflah dzikra mi'awiyah al-Ghazali
Mukti . ilmu tasawuf, fakta, B. Lampung, 2007,
Syaikh Dahlan al-Kediri, Siraj
al-Thalibin 'ala Syarh Minhaj al-'Abidin li al-Imam al-Ghazali, Jilid I, Dar
al-Fikr, Beirut, tt,
[1] Depag. Ensiklopedi Islam I 11M. ( Jakarta : C.V Anda Utama
:1993 ). Hal. 305.
[2] Imam Al-Ghazali. Kegelisahan Al-Ghazali, ( Bandung :
Pustaka Hidayah : 1998 ). Hal. 7.
[3] Depag. Op. Cit. Hal. 306.
[4] Imam Al-Ghazali. Op. it. Hal. 8 – 9.
[5] Al
Munqiz Min-a 'dl-Dlalal, Abu Hamid al-Ghazali. Hal 24-25
[6]
Al-Hayat al-Ruhiyah fi al-Islam, Dr. Muhammad Musthafa Hilmi. Hal 124
[7] Haqoiq
‘an al- Tasawuf, Dr. Abdul Qodir Isa. Hal 474
[8]
Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad binMuhammad, Raudlat al-Thalibin wa
'Umdat al-Salikin, dalam Majmu'at Rasail al-Imam Al-Ghazali, Dar al-Kitab
al-Ilmiyah Beirut, 1986 hal. 36 (Kitab ini selanjutnya akan disebut al-Ghazali
(b))
[9] Abu
al-Wafa al-Ghanimi al-Taftazani, Madkhal ila al-Tasawwuf al-Islam,
diterjemahkan menjadi Sufi dari Zaman ke Zaman, Pustaka Bandung, 1974, hal.169
[10]
Al-Ghazali (b) Op.cit, hal. 36
[11] Doktor
Usman Isa Syahin, Nadzriyyah al-Ma'rifat inda al-Ghazali, Tulisan dalam
menyambut haflah dzikra mi'awiyah al-Ghazali.
[12] Dr.
Abdul Halim Mahmud, Al-Imam al-Ghazali wa Ma'rifat al-Ghaib, Tulisan dalam
menyambut haflah dzikra mi'awiyah al--Ghazali
[13]
-Ghazali (b) Op.Cit, hal. 164
[15] Syaikh Dahlan al-Kediri, Siraj al-Thalibin 'ala
Syarh Minhaj al-'Abidin li al-Imam al-Ghazali, Jilid I, Dar al-Fikr, Beirut,
tt, hal. 88.
[18] Muhammad Jawwad Mughniyah, Ustadz al-Syaikh,
Mashdar al-Ma'rifat 'inda al-Imam al-Ghazali, Tulisan dalam menyambut haflah
dzikra mi'awiyah al-Ghazali
[21] Mukti . ilmu tasawuf, fakta, b. lsmpung, 2007, hlm, 58
Tidak ada komentar:
Posting Komentar